cfFp0twC8a3yW2yPPC8wDumW5SuwcdlZsJFakior
Bookmark

Aqiqah: Apa itu, Bagaimana Hukumnya, dan Bagaimana Cara Melaksanakannya?

Aqiqah: Apa itu, Bagaimana Hukumnya, dan Bagaimana Cara Melaksanakannya? Artikel ini menjelaskan tentang sunnah aqiqah berdasarkan Quran, hadits, dan ulama.

Aqiqah adalah salah satu sunnah Rasulullah SAW yang berkaitan dengan kelahiran seorang anak. Aqiqah berarti menyembelih hewan tertentu pada hari ketujuh setelah anak lahir sebagai bentuk syukur dan penebusan. Aqiqah juga merupakan salah satu cara untuk memberi nama dan mencukur rambut bayi.

Apa Dasar Hukum Aqiqah?

Aqiqah didasarkan pada beberapa hadits Nabi SAW yang menjelaskan tentang hukum, waktu, dan cara menyembelih hewan aqiqah. Berikut adalah beberapa hadits yang berkaitan dengan aqiqah:

عَنْ سَمُرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ‌الغُلَامُ ‌مُرْتَهَنٌ ‌بِعَقِيقَتِهِ ‌يُذْبَحُ ‌عَنْهُ ‌يَوْمَ ‌السَّابِعِ، ‌وَيُسَمَّى، ‌وَيُحْلَقُ ‌رَأْسُهُ

- Dari Samurah bin Jundub RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Seorang bayi itu digadaikan dengan (jaminan) aqiqahnya; aqiqah itu disembelih pada hari ketujuh (dari hari kelahiran), (pada hari itu pula) si bayi diberi nama dan dipotong rambutnya." (HR. Tirmidzi no. 1522)

- Dari Aisyah RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, maka sembelihlah untuknya pada hari ketujuh, berilah ia nama dan cukurlah rambutnya." (HR. Abu Dawud no. 2838)

- Dari Umar bin Syu'aib dari ayahnya dari kakeknya RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa di antara kalian yang ingin menyembelih aqiqah untuk anaknya, maka hendaklah ia lakukan untuk anak laki-laki dua ekor kambing yang sepadan dan untuk anak perempuan satu ekor kambing." (HR. Tirmidzi no. 1513)

Berdasarkan hadits-hadits di atas, para ulama sepakat bahwa hukum aqiqah adalah sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan dan tidak boleh ditinggalkan tanpa alasan yang syar'i. Aqiqah merupakan salah satu bentuk ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mengikuti sunnah Nabi SAW.

Kapan Waktu yang Tepat untuk Melaksanakan Aqiqah?

Waktu yang paling utama untuk melaksanakan aqiqah adalah pada hari ketujuh setelah anak lahir. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi SAW yang menyebutkan bahwa aqiqah itu disembelih pada hari ketujuh dari kelahiran bayi.

Namun jika tidak bisa dilakukan pada hari ketujuh, maka masih boleh dilakukan pada hari keempat belas atau kedua puluh satu atau setiap kelipatan tujuh setelahnya. Hal ini berdasarkan pendapat Imam Syafi'i dan sebagian ulama lainnya.

Jika tidak bisa dilakukan sebelum masa nifas (40 hari) berakhir, maka masih boleh dilakukan sebelum masa penyusuan (2 tahun) berakhir. 

Jika tidak bisa dilakukan sebelum masa penyusuan berakhir, maka masih boleh dilakukan sebelum anak baligh (dewasa). Jika tidak bisa dilakukan sebelum anak baligh, maka kesunahan aqiqah gugur dari orang tua, tetapi anak boleh mengaqiqahi dirinya sendiri setelah baligh.

Bagaimana Cara Melaksanakan Aqiqah?

Cara melaksanakan aqiqah adalah sebagai berikut:

- Menyediakan hewan yang layak untuk disembelih sebagai aqiqah. Hewan yang layak adalah kambing atau domba yang sehat, tidak cacat, dan memenuhi syarat kurban. Jumlah hewan yang disyariatkan adalah dua ekor untuk anak laki-laki dan satu ekor untuk anak perempuan. Jika tidak mampu menyediakan dua ekor untuk anak laki-laki, maka cukup satu ekor saja.

- Menyembelih hewan aqiqah dengan menyebut nama Allah SWT dan nama anak yang diaqiqahi. Sebelum menyembelih, disunnahkan untuk membaca doa berikut: "Bismillâhi walLâhu Akbar. Allahumma minka wa laka. Allahumma taqabbal minni. Hadzihi ‘aqiqatu… (sebutkan nama bayi)" Artinya: "Dengan menyebut nama Allah. Allah Maha Besar. Ya Allah, dari dan untuk-Mu. Ya Allah, terimalah dari kami. Inilah aqiqahnya … (sebutkan nama bayi)"

- Mencukur rambut bayi yang diaqiqahi dan menimbang berat rambutnya. Kemudian disedekahkan perak atau uang sebanyak berat rambut bayi tersebut kepada orang fakir atau miskin. 

Sebelum mencukur, disunnahkan untuk membaca doa berikut: "Bismillâhirrahmânirrahîm. Alhamdulillâhirabbil ‘âlamîn. Allâhumma nûrus samâwâti wa nûrusy syamsyi wal qamari, Allâhumma sirruLlâhi nûrun nubuwwati RasuluLlâhi ShallaLlâhu ‘alaihi wasallam walhamduliLlâhi Rabbil ‘âlamin." 

Artinya: "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Ya Allah, cahaya langit, matahari dan rembulan. Ya Allah, rahasia Allah, cahaya kenabian, Rasululullah SAW, dan segala puji Bagi Allah, Tuhan semesta alam."

- Meniup ubun-ubun bayi yang diaqiqahi dan membaca doa berikut: "Allâhumma innî u’îdzuhâ bika wa dzurriyyatahâ minasy syaithânir rajîm" Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan untuk dia dan keluarganya dari setan yang terkutuk."

- Mendistribusikan daging aqiqah kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Daging aqiqah disunnahkan untuk dimasak terlebih dahulu dan diantarkan kepada tetangga-tetangga tanpa membedakan status ekonomi mereka. Jika ada sisa daging, bisa dikonsumsi sendiri atau oleh orang lain. Daging aqiqah tidak boleh dijual atau ditukar dengan barang lain. Sedangkan jika aqiqahnya wajib, maka semuanya harus disedekahkan.

Apa Manfaat dan Hikmah Aqiqah?

Aqiqah memiliki banyak manfaat dan hikmah bagi orang tua dan anak yang diaqiqahi, di antaranya adalah:

- Menyatakan rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat kelahiran seorang anak.

- Menyempurnakan hak anak sebagai seorang muslim dengan memberinya nama yang baik dan mencukur rambutnya.

- Menjalin silaturahim dengan tetangga dan kerabat dengan membagikan daging aqiqah kepada mereka.

- Memberikan makanan kepada orang-orang fakir dan miskin dengan sedekah perak atau uang sebanyak berat rambut bayi.

- Melindungi anak dari gangguan setan dengan memohon perlindungan kepada Allah SWT.

- Mengikuti sunnah Nabi SAW yang merupakan contoh terbaik dalam segala hal.

Demikian artikel singkat tentang pengertian aqiqah, hukum pelaksanaan dan cara melaksanakannya. Semoga bermanfaat dan mencerahkan bagi para pembaca.

Sumber:

(1) https://jatim.nu.or.id/keislaman/panduan-dan-ketentuan-soal-aqiqah-7VRPI.
(2) https://islam.nu.or.id/post/read/83091/doa-doa-seputar-aqiqah.
(3) https://www.sanctri.com/hadits
-tentang-aqiqah/.
Post a Comment

Post a Comment

close